Fakta Unik Benteng Kuto Besak, Simbol Kejayaan dan Semangat Sultan Mahmud Badaruddin II
Benteng Kuto Besak bukan sekadar bangunan bersejarah di tepian Sungai Musi, tetapi simbol kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam dan semangat perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II yang abadi dalam sejarah bangsa. Foto:Kris Samiaji/Sumateraekspres.id--
SUMATERAEKSPRES.ID – Benteng Kuto Besak (BKB) bukan sekadar bangunan bersejarah yang berdiri megah di tepian Sungai Musi, tetapi juga simbol kejayaan, identitas budaya, serta saksi bisu perjuangan rakyat Palembang melawan penjajahan.
Berdiri kokoh di jantung Kota Palembang, benteng ini kini menjadi ikon wisata yang dikunjungi ratusan ribu wisatawan setiap tahunnya.
Bangunan monumental ini menyimpan kisah panjang Kesultanan Palembang Darussalam dan semangat patriotik Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II), sosok pejuang yang dengan gagah berani menolak dominasi kolonial Belanda.
BACA JUGA:Serunya Grebek Pasar Astra Motor Sumsel, Perkenalkan Honda BeAT, Hadirkan Hiburan
BACA JUGA:Manfaatkan Pekarangan Sempit, Warga OKU Selatan Sukses Budidaya Melon
A. Sejarah Panjang Benteng Kuto Besak
Benteng Kuto Besak memiliki nilai historis luar biasa karena berbeda dari kebanyakan benteng di Indonesia yang dibangun oleh penjajah. BKB justru dirancang dan dibangun oleh bangsa sendiri sebagai simbol kedaulatan.
1. Latar Sejarah
- Pembangunannya dimulai pada masa Sultan Muhammad Bahauddin sekitar tahun 1780.
- Rampung pada 21 Februari 1797, benteng langsung dijadikan pusat pemerintahan menggantikan Kuto Lamo.
- Selain berfungsi sebagai keraton, benteng ini menjadi benteng pertahanan utama melawan pasukan kolonial Belanda.
- Pada tahun 1821, benteng ini menjadi saksi pertempuran sengit saat Palembang diserang oleh pasukan Belanda.
BACA JUGA:Bank Sumsel Babel Gencarkan KUR dengan Bunga Ringan, Dorong UMKM Tumbuh
BACA JUGA:Dinsos Empat Lawang Luncurkan Program Itik Petelur, Cetak Pemuda Mandiri dan Produktif
2. Masa Kolonial dan Pasca-Kemerdekaan
Setelah kekalahan Kesultanan Palembang, Belanda menjadikan benteng ini sebagai markas militernya.
Saat ini, sebagian besar kawasan Benteng Kuto Besak dikelola oleh Kodam II/Sriwijaya, sehingga tidak seluruh area terbuka untuk umum.
