Sungai Musi: Nadi Kehidupan dan Wisata Ikonik di Palembang
Di jantung Sumatera Selatan, mengalir tenang namun penuh cerita, Sungai Musi.-Foto: sumateraekspres.id-
PALEMBANG, SUMATERAEKSPRES.ID – Di jantung Sumatera Selatan, mengalir tenang namun penuh cerita, Sungai Musi.
Sungai legendaris ini bukan sekadar bentangan air, melainkan nadi kehidupan yang menyatukan sejarah, budaya, hingga geliat ekonomi masyarakat Palembang dari masa lampau hingga kini.
Dengan panjang mencapai 750 kilometer, Sungai Musi menyandang predikat sebagai sungai terpanjang kedua di Pulau Sumatera, setelah Sungai Batanghari yang membentang sejauh 800 kilometer.
Dari hulu di Pegunungan Bukit Barisan, Rejang Lebong – Bengkulu, aliran Sungai Musi terus melaju melintasi Kota Palembang hingga bermuara ke Selat Bangka, Kabupaten Banyuasin, Sumsel.
Simbol Keindahan Bersama Jembatan Ampera
Tak lengkap membicarakan Sungai Musi tanpa menyebut Jembatan Ampera, ikon megah Kota Palembang yang membelah sungai sepanjang 1.117 meter itu.
Jembatan ini dibangun pada 1962 dan diresmikan sebagai penghubung Seberang Ulu dan Seberang Ilir.
Semula bernama Jembatan Soekarno, kemudian diganti oleh Presiden Soekarno sendiri menjadi Ampera, kependekan dari Amanat Penderitaan Rakyat.
BACA JUGA:Ibu Hamil dan Anaknya Tewas, Korban Perahu Tenggelam di Sungai Rawas
BACA JUGA: Panik Tembakan Peringatan, Terjun ke Sungai Dawas, Remaja asal Muba Tewas Tenggelam
Di malam hari, jembatan yang berdiri setinggi 63 meter dari tanah ini tampak bersinar oleh hiasan lampu-lampu warna-warni yang memantul di permukaan Sungai Musi.
Dari atas jembatan, pengunjung bisa menyaksikan panorama Benteng Kuto Besak, warisan sejarah abad ke-18.
Dari Mu Ci Menjadi Musi
Menurut penelitian Ida Farida dari UIN Raden Fatah Palembang, asal-usul nama Musi berakar dari penyebutan "Mu Ci" oleh para pendatang dari Tiongkok yang melintasi kawasan Selat Bangka.
