Plus-Minus Kerja di BUMN: Stabilitas Finansial atau Tantangan Birokrasi?
Bekerja di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih menjadi dambaan banyak pencari kerja di Indonesia.-Foto: sumateraekspres.id-
Berbeda dengan perusahaan swasta yang lebih fleksibel, BUMN cenderung menetapkan jam kerja yang ketat dan formal. Hal ini bisa menjadi hambatan bagi individu yang terbiasa dengan sistem kerja dinamis atau remote working.
4. Keterlambatan Adaptasi Teknologi
Dominasi pegawai senior dalam struktur organisasi sering menjadi penghambat penerapan teknologi baru. Akibatnya, inovasi digital kurang maksimal dan bisa membuat BUMN tertinggal dari perusahaan swasta dalam hal efisiensi kerja.
5. Tekanan Kerja dan Target yang Ketat
Meski identik dengan stabilitas, bekerja di BUMN tetap menuntut performa tinggi. Target kerja, laporan berkala, serta tekanan dari atasan tetap menjadi bagian dari keseharian yang harus dihadapi.
6. Risiko Politisasi dan Praktik KKN
BUMN tidak jarang menjadi objek kepentingan politik. Hal ini bisa berujung pada kebijakan yang tidak profesional atau praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dalam proses rekrutmen dan promosi jabatan.
7. Ketimpangan Budaya Kerja Antar Generasi
Perbedaan pandangan dan cara kerja antara pegawai senior dan junior seringkali menimbulkan friksi internal. Adaptasi budaya menjadi tantangan tersendiri, khususnya bagi generasi muda yang lebih terbuka terhadap perubahan.
8. Lingkungan yang Kurang Inovatif
Budaya kerja yang terlalu birokratis dan normatif membuat ruang inovasi terbatas. Kreativitas dan ide segar kadang tidak mendapatkan tempat yang layak, terutama di lini manajerial yang konservatif.
Kesimpulan
BUMN tetap menjadi pilihan menarik bagi mereka yang mencari stabilitas karier dan kesejahteraan jangka panjang. Namun, lingkungan kerja yang birokratis, risiko mutasi wilayah, serta tekanan kerja yang tinggi menjadi pertimbangan serius.
Oleh karena itu, keputusan untuk berkarier di BUMN perlu diambil dengan pemahaman menyeluruh terhadap kelebihan dan tantangannya.
