Aplikasi Biofungisida, Cegah Penyakit Kresek
LAKUKAN PENGENDALIAN: Petugas PPEP POPT, Junaidi, SP bersama Penyuluh Pertanian mendampingi warga dalam Gerakan Pengendalian OPT Padi di Kelompok Tani Kandis Bersatu Desa Kandis Kecamatan Kandis Kabupaten Ogan Ilir. -FOTO: ANDIKA/SUMEKS-
INDRALAYA, SUMATERAEKSPRES.ID - Penyakit hawar daun yang disebabkan bakteri anthomonas oryzae. Bakteri ini mengandung xantomonadin yang menghasilkan pigmen berwarna kuning dan menginfeksi tanaman padi. Melalui luka dan stomata daun, selanjutnya masuk ke klorofil dan merusak daun.
Petugas PPEP POPT, Junaidi, SP bersama Penyuluh Pertanian mendampingi warga dalam Gerakan Pengendalian OPT Padi di Kelompok Tani Kandis Bersatu Desa Kandis Kecamatan Kandis Kabupaten Ogan Ilir. ‘’Di hamparan padi seluas 35 Ha berumur 20-50 Hst dengan varietas IR 42 telah dikendalikan OPT Kresek yang dikendalikan seluas 2 ha dengan cara aplikasi Bio-fungisida berbahan aktif Streptomyces thermovulgaris/Geobacillus thermocatenulatus," ujar Junaidi.
Bio-fungisida berbahan aktif Streptomyces thermovulgaris dan Geobacillus thermocatenulatus menawarkan solusi ramah lingkungan untuk mengendalikan berbagai penyakit tanaman. Kedua mikroba ini bekerja sinergis melalui mekanisme kontak dan lambung, serta menghasilkan senyawa antimikroba yang efektif menekan pertumbuhan patogen jamur dan bakteri.
Penggunaan bio-fungisida ini membantu petani mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis dan meminimalkan residu berbahaya. Komposisi produk biasanya diformulasi dalam bentuk bubuk kering. Dalam kondisi penyimpanan kering, sel mikroba dalam keadaan dorman. Sehingga bisa tahan hingga beberapa tahun sebelum diaktifkan kembali dengan air.
Mekanisme kerja utama meliputi Produksi enzim lisozim dan kitinase yang merusak dinding sel patogen. Sintesis metabolit sekunder, seperti antibiotik alamiah, yang menghambat perkecambahan spora dan reproduksi patogen. Kompetisi nutrisi dan ruang pada permukaan akar dan daun, mencegah koloni patogen berkembang.
BACA JUGA:Begini Cara Kerja Fungisida Sistemik, Petani Harus Tahu Nih
BACA JUGA:Kendalikan Hawar Daun, Gunakan Bio Fungisida, Tak Timbulkan Pencemaran Lingkungan
Spektrum penyakit yang dapat dikendalikan meliputi Blas (Pyricularia oryzae) pada tanaman padi, embun tepung (Podosphaera xanthii) pada sayuran seperti melon dan labu, layu cendawan (Fusarium sp., Pythium sp.) pada aneka tanaman hortikultura, layu bakteri (Ralstonia solanacearum) pada tomat, cabai, dan kentang. Serta kresek (Xanthomonas oryzae) pada padi.
Cara aplikasinya sederhana dan fleksibel. Larutkan 1 gram produk dalam 1 liter air, diamkan 3–24 jam tanpa tutup agar mikroba aktif berkembang. Encerkan hasil larutan awal hingga mencapai 90 liter air. Semprotkan ke daun dan batang untuk penyakit foliar seperti blas dan embun tepung.
Siram ke media tanam atau pangkal batang untuk penyakit layu bakteri dan cendawan. Frekuensi aplikasi disesuaikan: preventif setiap 10–15 hari, kontrol ringan setiap 3–5 hari sebanyak tiga kali, dan serangan tinggi setiap 1–2 hari sebanyak tiga kali.
Keunggulan penggunaan bio-fungisida ini antara lain tidak menimbulkan residu kimia berbahaya dan bebas logam berat. Tak menyebabkan fitotoksisitas sehingga aman untuk semua fase pertumbuhan tanaman. Memperkuat pertahanan alami tanaman dengan memperbaiki mikrobioma akar. Ramah lingkungan dan mendukung pertanian berkelanjutan.
Dengan memanfaatkan Streptomyces thermovulgaris dan Geobacillus thermocatenulatus, petani dapat mengendalikan berbagai hama penyakit secara efektif, menurunkan biaya pengendalian kimia, dan meningkatkan kesehatan jangka panjang lahan pertanian. "Rekomendasi yang dapat dilakukan setelah pengendalian adalah melakukan evaluasi 3-5 hari setelah gerakan pengendalian. Pengendalian lanjutan jika intensitas serangan OPT meningkat. Serta monitoring intensif untuk memantau perkembangan OPT," pungkasnya.
