Sekolah Disulap Jadi Lumbung Pangan Mini
LABORATORIUM ALAM: Lahan sekolah SDN Madugondo, Kecamatan Belitang Jaya dijadikan laboratorium alam, tempat siswa belajar biologi, lingkungan, sekaligus kewirausahaan secara sederhana. -FOTO: KHOLID/SUMEKS-
BELITANG, SUMATERAEKSPRES.ID -Upaya mewujudkan ketahanan pangan tak harus dimulai dari sektor besar. Dari lingkungan sekolah pun, gerakan itu bisa tumbuh dan memberi dampak nyata.
Seperti yang dilakukan SD Negeri Madugondo, Kecamatan Belitang Jaya, Kabupaten OKU Timur. Sekolah ini sukses menyulap lahan tidur di lingkungan sekolah menjadi kebun produktif sarat nilai edukasi.
Iklan Google/Link Sponsor
BACA JUGA:Dorong Gerakan Sekolah Hijau
Di bawah kepemimpinan Kepala SDN Madugondo, Suranto, SPd SD, sekolah ini secara konsisten mengintegrasikan pendidikan lingkungan hidup ke dalam kegiatan belajar mengajar.
Lahan kosong yang sebelumnya tak termanfaatkan kini berubah menjadi area hijau yang ditanami berbagai jenis sayuran, tanaman pangan, hingga tanaman obat keluarga.
Langkah ini merupakan bentuk dukungan konkret terhadap Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP), program strategis Pemprov Sumsel yang digagas Gubernur Sumsel Dr H Herman Deru.
Program sekolah hijau di SDN Madugondo sendiri dikoordinatori Rita Rahayuningsih SPd, yang juga menjadi motor penggerak kegiatan pertanian praktis di sekolah tersebut.
Tak sekadar menanam, para siswa diajak terlibat langsung sejak tahap awal. Mulai dari pengolahan tanah, penanaman, perawatan, hingga panen.
Berbagai komoditas jangka pendek seperti bayam, kangkung, dan cabai tumbuh subur di pekarangan sekolah.
Selain itu, tanaman pangan seperti pisang dan ubi kayu juga dibudidayakan, melengkapi apotek hidup yang berisi aneka tanaman obat tradisional.
“Program ini dirancang untuk membangun karakter siswa agar lebih mandiri dan peduli terhadap kedaulatan pangan sejak usia dini,” katanya.
Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang pembelajaran yang kontekstual dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Kami ingin menanamkan pemahaman bahwa pangan tidak selalu harus dibeli.
Anak-anak perlu tahu dengan pengetahuan dan kemauan, mereka bisa menghasilkan sendiri. Lahan sekolah kami jadikan laboratorium alam, tempat siswa belajar biologi, lingkungan, sekaligus kewirausahaan secara sederhana,” ujarnya.
