Ekonomi Sumsel Menguat, Pemerataan Pembangunan Jadi PR
Bambang Pramono - FOTO: DILA/SUMEKS-
JOGJAKARTA, SUMATERAEKSPRES.ID - Ekonomi di Sumsel terus menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan yang menguat. Namun, analisis data memperlihatkan geliat ekonomi tersebut masih menghadapi tantangan, terutama terkait hilirisasi komoditas dan pemerataan pembangunan infrastruktur.
Kondisi ini menjadi perhatian Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama Bank Indonesia (BI). Sumsel dinilai membutuhkan transformasi menyeluruh, mulai dari penguatan kualitas sumber daya manusia, hilirisasi industri berbasis sumber daya alam, hingga pemerataan kawasan industri. Tujuannya agar lonjakan pertumbuhan ekonomi tidak menimbulkan ketimpangan baru.
Kepala BI Sumsel, Bambang Pramono mengatakan, berdasarkan laporan perkembangan makroekonomi dan sistem keuangan BI, pertumbuhan ekonomi Sumsel tercatat sebesar 5,42 persen (yoy). Sektor pertambangan menjadi penopang utama dengan pertumbuhan mencapai 24,45 persen. Namun, sektor ini tergolong padat modal sehingga tidak banyak menyerap tenaga kerja lokal.
Sebaliknya, sektor perdagangan dan industri pengolahan yang lebih dekat dengan masyarakat justru tumbuh lebih rendah, masing-masing 14,16 persen dan 18,16 persen. Kondisi ini menunjukkan adanya risiko growth without jobs alias pertumbuhan tanpa perluasan lapangan kerja yang memadai.
BACA JUGA:Bambu Liar Jadi Sumber Ekonomi Baru, Tingkatkan Pendapatan Keluarga
BACA JUGA:Sensus Ekonomi 2026: Peta Jalan untuk Perekonomian Sumatera Selatan
Ketimpangan juga tampak secara geografis. Proyek strategis nasional seperti Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dan peningkatan produksi migas lebih banyak memberi dampak pada daerah industri dan pertambangan, seperti Muara Enim, Musi Banyuasin, dan Ogan Ilir. Sementara wilayah berbasis pertanian rakyat, seperti Lahat, OKU, dan Musi Rawas, belum sepenuhnya merasakan manfaat dari laju pembangunan.
Dikatakan, pertumbuhan ekonomi tahun ini diproyeksikan berada pada kisaran 4,8–5,6 persen. Untuk menjaga momentum, strategi akan diarahkan pada hilirisasi komoditas, pemanfaatan teknologi, serta pengembangan kawasan industri. “Transformasi ekonomi Sumsel tidak bisa lagi bertumpu pada komoditas mentah. Hilirisasi batubara, karet, dan sawit harus diperkuat agar tercipta nilai tambah yang berkelanjutan,” ujar Bambang saat agenda capacity building dan gathering wartawan ekonomi dan bisnis, 25–27 September 2025 di Yogyakarta.
Dari sisi harga, Sumsel tercatat mengalami deflasi 0,04 persen (mtm) pada Agustus 2025, dengan inflasi tahunan sebesar 3,04 persen, masih dalam rentang sasaran. ‘’Capaian ini merupakan hasil kerja sama TPID melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dan Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP). Pengendalian inflasi tetap menjadi fokus agar daya beli masyarakat terjaga,” tegasnya.
BACA JUGA:Ekonomi Desa 2025: Digitalisasi Pasar Tradisional Lewat Aplikasi Lokal
BACA JUGA:Peternakan Sapi di Air Putih Ulu Muba Dorong Ekonomi dan Ketahanan Pangan
Dari sisi keuangan, lanjutnya, stabilitas perbankan Sumsel dinilai masih aman, meskipun pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) melambat menjadi 6,91 persen (yoy) dan kredit turun ke 6,51 persen. Perlambatan ini menjadi sinyal tantangan bagi sektor usaha kecil dan menengah (UMKM) yang rentan terhadap keterbatasan pembiayaan.
Meski demikian, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Sumsel tercatat berada di level 111,7, menandakan optimisme masyarakat tetap terjaga. Ke depan, BI akan terus mendorong hilirisasi industri agar manfaat pertumbuhan dapat lebih merata dan membuka lebih banyak lapangan kerja. “Penguatan hilirisasi adalah kunci untuk mengurangi ketimpangan, memperluas kesempatan kerja, dan memastikan pertumbuhan ekonomi lebih inklusif,” tambah Bambang.
Selain itu, produktivitas pertanian juga masih menopang ekonomi Sumsel, seiring kondisi cuaca yang relatif stabil, program swasembada pangan, dan stimulus pemerintah pusat melalui berbagai program pengembangan daerah.
