ASDP Buka Pasar Beras Ekspor hingga Wisata Pesisir
MASUK KAPAL: Sejumlah truk pengangkut komoditas, sembako, dan barang-barang mesin (spare part) masuk kapal feri, KMP Legundi yang melayani penyeberangan rute Pelabuhan Merak-Bakauheni. -Foto : IST -
SUMSEL, SUMATERAEKSPRES.ID - Selepas panen padi, petani Desa Sungai Belida, Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjual hasil gabah kering panen (GKP)-nya ke Bulog. Jika gudang Bulog sudah over capacity, petani melegonya ke pengepul-pengepul yang datang untuk dibawa ke pabrik-pabrik beras luar kota, terutama ke Pulau Jawa melalui kapal feri PT ASDP Indonesia Feri (Persero).
“Harga gabah sebenarnya hampir sama antara Rp6-7 ribu per kg. Namun karena hasil panen tak terserap seluruhnya di pasar lokal. Daripada menumpuk, gabah rusak diserang hama, atau petani harus menjemur dan menggiling sendiri, kami memilih menjualnya ke luar kota,” ujar Yusuf Fajar, Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Lempuing Jaya kepada Sumatera Ekspres, Sabtu (16/8).
Iklan Google/Link Sponsor
Menurut Yusuf, rata-rata petani maunya instan habis panen garap lahan, seperti sekarang (Agustus) usai IP (Indeks Pertanaman) 200 masuk masa panen IP 300 padi. “Menggarap sawah butuh modal mengolah lahan, membeli benih, pupuk, obat hama, listrik (pengairan sumur bor) di musim kering, dan upah tenaga kerja kurang lebih Rp10 juta per hektar. Setelah memperoleh uang dari menjual gabah, petani bisa nanam lagi,” ungkapnya.
Tapi, ada pula petani OKI memasarkan gabahnya ke produsen beras di Cipinang untuk memenuhi permintaan ekspor ke Malaysia, Arab Saudi, dan Belanda. “Beras kita ini tergolong varietas (bibit) unggul bersertifikat seperti IR 64, Ciliwung, Pandan Wangi. Khusus beras ekspor, kualitas kadar airnya (maksimal) gabah kelas mutu premium 22 persen dan wajib memenuhi keseragaman warna,” kata warga Sungai Belida ini.
BACA JUGA:Bupati Muara Enim Hadiahi Paskibraka Karya Wisata ke 3 Kota Besar
BACA JUGA:BRI Dorong Desa Wisata Jadi Destinasi Unggulan Lewat Program Desa BRILiaN
Konektivitas antar pulau, terang Yusuf, Sumatera dan Jawa (Bakauheni-Merak) sejak lama memudahkan jalur perdagangan beras lokal dan komoditi lainnya. “Petani kita juga menanam dan memanen jambu kristal, melon, pepaya. Produk holtikultura ini dijual ke Jakarta, permintaan lebih besar. Banyak pasar modern di sana, harganya lumayan mahal,” sebutnya.
Sekali angkut dengan truk pasca panen, baik beras maupun buah-buahan, jumlahnya berton-tonan. Dari Sungai Belida ke Pelabuhan Bakauheni sekitar 4 jam lebih via Jalan Tol Palembang-Lampung, lalu naik kapal feri (reguler) 2,5 jam sampai Pelabuhan Merak, ke Jakarta sekitar 2 jam. Total 8 jam, cepat sekali. “Pengiriman komoditi selalu lancar. Truk-truk beras dan buah naik kapal sat set sat set, tidak pernah antre,” bebernya.
Transportasi laut yang dinakhodai ASDP itu sangat membantu pengiriman komoditas ke buyer, baik untuk konsumsi domestik maupun ekspor, melipatgandakan pengiriman hasil bumi, meningkatkan daya tawar, pendapatan petani, hingga menggerakan perekonomian daerah. Dengan produksi padi 8 ton per hektar dan HPP GKP Rp6.500/kg, petani minimal memperoleh penghasilan bruto Rp52 juta/ha. “Kesejahteraan petani kita meningkat dengan banyaknya pilihan pasar yang bisa dijangkau,” terang Yusuf.
Pengepul beras, Ferianto (45) sering membeli dan mengangkut puluhan ton gabah ke produsen beras di Pulau Jawa. “Biasanya usai panen, contoh periode Juli-Agustus ini di Lempuing Jaya itu panen kedua. Pas suplai banyak 3-4 hari sekali pulang pergi,” katanya saat dibincangi. Distribusinya harus cepat karena sekaligus mengisi stok beras pabrik hingga menunggu panen berikutnya.
BACA JUGA:Terima Audiensi PHRI, Wako Ratu Dewa Minta Dukungan Palembang Kota Wisata
BACA JUGA:5 Air Terjun Tersembunyi di Lahat yang Menyaingi Pesona Wisata Dunia
Kalau dulu, lanjut Ferianto, banyak kendala membawa gabah ke Jawa. Selain belum ada jalan tol, naik kapal masih sistem manual (beli tiket) jadi tak bisa diperhitungkan waktu keberangkatan. Belum lagi jika penumpang ramai dan antre masuk pelabuhan, nunggu berjam-jam. “Pokoknya repotlah ke Jawa, habis waktu seharian. Tapi sekarang kan gampang, pesan tiket via online (lewat aplikasi Ferizy, red). Setiap jam ada jadwal masuk pelabuhan dan kapal berlayar,” terangnya.
Tarifnya pasti, layanan reguler untuk kendaraan golongan VIB dengan 2 orang dewasa Rp1,2 juta. “Saat nyopir truk, saya membawa satu kernet pendamping. Kami gantian nyetir jika ngantuk di jalan,” imbuh warga Lubuk Seberuk ini.
