Sumatera Ekspres | Baca Koran Sumeks Online | Koran Sumeks Hari ini | SUMATERAEKSPRES.ID - SUMATERAEKSPRES.ID Koran Sumeks Hari ini - Berita Terhangat - Berita Terbaru - Berita Online - Koran Sumatera Ekspres

https://sumateraekspres.bacakoran.co/

Mitsubishi baru

Iklan Google/Link Sponsor

Nilai Tukar Dolar AS Melonjak, Cost Naik 30 Persen

Kurmin Halim SH FOTO: IST--

PALEMBANG, SUMATERAEKSPRES.ID - Lonjakan nilai tukar dolar AS yang terjadi beberapa pekan terakhir, berpengaruh signifikan pada biaya operasional dan pengeluaran terutama terkait dengan barang yang diimpor langsung dari mancanegara.

Bahkan dengan harga Rp17 ribu lebih untuk US$1, pengusaha harus kocek kantong lebih dalam. 


Iklan Google/Link Sponsor

BACA JUGA:Rupiah Juni 2026 Dibayangi Tekanan Global, Akankah Tembus Rp17.700 per Dolar AS?

BACA JUGA:Dolar AS Melemah Tipis, Harga Emas Tembus Rp4,58 Juta per Gram! Simak Kurs Mata Uang Asing Hari Ini dan Dampak

Diprediksi kenaikan ini mencapai angka 30 persen.  ‘’Pemerintah melalui Bank Indonesia harus mengeluarkan kebijakan untuk menekan lonjakan tersebut,’’ ujar Ketua DPC Insa Palembang yang juga Owner Kapal Express Bahari, Kurmin Halim SH. 

Dikatakan, seperti pada perkapalan angkut penumpang sangat berdampak dengan kenaikan nilai tukar tersebut. 

‘’Untuk spare part semuanya diimpor langsung dari luar negeri. Nilai tukar rupiah kini tembus Rp17.600 an, mau tidak mau, pengeluaran dan biaya operasional juga meningkat," ulasnya.

Bahkan untuk pembelian suku cadang, lanjutnya, harus impor dari luar negeri seperti Amerika Serikat dan Jerman yang pembayarannya menggunakan dolar AS, dolar Singapura, dan Euro. 

‘’Di sisi lain, ketiga mata uang tersebut sekarang ini sudah sangat tinggi,’’ ujarnya.

Kondisi ini, lanjutnya, membuat cost makin besar.  ‘’Karena pasar, hanya menerima ketiga mata uang tersebu

Jadi mau tidak mau dan suka tidak suka, kebijakan ini harus kami ikuti, kalau tidak tentunya ini akan berpengaruh ke armada yang kami miliki," jelasnya. 

Kendati demikian, lanjutnya,  kapal angkut penumpang masih menggunakan BBM subsidi. Sehingga bisa sedikit menekan cost untuk pembelian BBM.

‘’Bayangkan bila tidak lagi diperbolehkan kapal ini membeli BBM subsidi oleh pemerintah, akan sangat berdampak ke  pengusaha kapal angkutan penumpang,’’ ujarnya. 

Dikatakan, dengan kondisi yang ada sekarang ini,  pemerintah melalui BI harus melakukan langkah strategis dan kebijakan untuk menekan nilai tukar dolar dan memperkuat nilai tukar rupiah.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan