Permintaan Hewan Kurban Naik
PENGAWASAN: Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumatera Selatan memperketat pengawasan hewan kurban yang dikirim ke Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. -FOTO: DILA/SUMEKS-
PALEMBANG, SUMATERAEKSPRES.ID - Permintaan hewan kurban alami peningkatan signifikan. Hal itu terlihat dari naiknya lalu lintas ternak yang diperiksa di Pelabuhan Tanjung Api-Api, Sumatera Selatan, yang mencapai 9.551 ekor pada 2026 atau meningkat sekitar 12,35 persen dibanding tahun lalu.
Meningkatnya distribusi ternak tersebut membuat Badan Karantina Indonesia (Barantin) melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumatera Selatan memperketat pengawasan. Khususnya terhadap hewan kurban yang akan dikirim ke Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Iklan Google/Link Sponsor
BACA JUGA: Permintaan Hewan Kurban Naik, Karantina Sumsel Perketat Pengawasan
BACA JUGA:Jaga Kelancaran Arus Mudik dan Idulfitri, Karantina Sumsel Gelar Operasi Patuh Karantina
Kepala Karantina Sumatera Selatan, Sri Endah Ekandari, mengatakan, lonjakan permintaan hewan kurban terjadi menjelang Iduladha, terutama pada komoditas kambing.
“Menjelang Iduladha, lalu lintas hewan kurban meningkat cukup signifikan. Karena itu, Karantina Sumsel meningkatkan pengawasan untuk memastikan hewan sehat, aman, dan tidak membawa risiko penyebaran penyakit ke daerah tujuan,” ujar Endah, kemarin.
Berdasarkan data Best Trust (Barantin Electronic System for Transaction and Utility Service Technology), selama periode 27 April hingga 25 Mei 2026, Karantina Sumsel telah memeriksa 1.602 ekor sapi, 7.940 ekor kambing, dan 9 ekor domba yang dilalulintaskan melalui Pelabuhan Tanjung Api-Api menuju Bangka Belitung.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 5 Mei hingga 4 Juni 2025, dengan total pemeriksaan 2.081 ekor sapi dan 6.420 ekor kambing.
“Secara total, lalu lintas hewan ternak meningkat dari 8.501 ekor pada 2025 menjadi 9.551 ekor pada 2026. Peningkatan paling besar terjadi pada lalu lintas kambing,” jelasnya.
Menurut Endah, pengawasan diperketat untuk memastikan seluruh hewan kurban dalam kondisi sehat dan bebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), maupun antraks
Pemeriksaan dilakukan melalui pengecekan fisik, pengujian laboratorium, pemeriksaan Sertifikat Veteriner dari daerah asal, hingga verifikasi riwayat vaksinasi PMK.
Selain itu, lanjutnya, petugas menerapkan biosekuriti dengan melakukan penyemprotan disinfektan terhadap alat angkut ternak sebelum keberangkatan guna meminimalisasi risiko penyebaran penyakit selama proses distribusi.
“Petugas melakukan pemeriksaan langsung di lapangan untuk memastikan seluruh tahapan pengawasan berjalan sesuai prosedur perkarantinaan,” tambahnya.
Pelabuhan Tanjung Api-Api menjadi salah satu titik strategis pengawasan lalu lintas ternak, terutama sapi, kambing, dan domba asal Lampung serta sebagian Bali yang dikirim untuk memenuhi kebutuhan hewan kurban masyarakat Bangka Belitung.
