Puncak Gunung
Kota Tahrim--
Oleh: Dahlan Iskan
Sampai kapan Tarim bisa bertahan dengan konservatifisme Islamnya?
Iklan Google/Link Sponsor
Soal debu dan kerasnya alam mungkin akan abadi. Tarim memang dikelilingi gunung-gunung tanah. Begitu ada angin debu memenuhi udara.
Bebatuan di dalamnya hanya campuran. Beda dengan di Arab Saudi: gunungnya berupa batu solid.
Soal melimpahnya air mungkin juga abadi. Tanpa atau dengan doa Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Pegunungan tanah itu menyimpan air hujan. Pelan-pelan turun ke lembahnya: termasuk Tarim.
Kelak, modernisasi mungkin akan terjadi juga di Tarim. Terbawa oleh belahan lain di dunia. Hanya saja, mungkin, modernisasi di Tarim amat pelan.
Tanda-tandanya sudah mulai terlihat. Semua orang sudah pegang handphone. Itu sumber modernisasi yang dahsyat.
Pasar handphone di sana didominasi oleh Samsung –kategori yang murah dan murah sekali. Lalu Redmi-nya Xiaomi, sekelas yang masih bisa saya pakai. Baru Vivo dan lainnya.
Saya lihat ada juga merek yang belum saya kenal: LT. Saya cari di Google. Tidak ketemu; LT itu produk dari mana. Pemakainya sendiri tidak tahu. Mungkin. BikinanTurkiye.
Khotib yang khotbah di masjid besar Tarim pun sesekali membaca teks dari layar HP di tangan kanannya. HP akan merevolusi tatanan sosial di Tarim.
Memang sinyal masih sering tersendat. Internet masih putus-putus. 4G misalnya, baru masuk ke Yaman tahun lalu.
Belum ada 5G. Tapi itu soal waktu saja. Begitu negara itu aman ekonomi akan bergerak sendiri.
Saya masih menemukan mahasiswa Indonesia di Tarim yang mengaku belum pernah mendengarkan musik selama di sana.
