Rumah Ulu OKU: Warisan Budaya Bernilai Filosofis dan Religius dari Sumatera Selatan
RUMAH TRADISIONAL : Rumah Ulu dari Kabupaten OKU memiliki dinding kayu, memiliki tiang (kayu unglen) yang hanya diganjal (dengan batu kali/balok kayu), jadi tidak disemen. FOTO: BERRY SUNISU/SUMEKS--
BATURAJA, SUMATERAEKSPRES.ID - Bangunan Rumah Ulu (Khumah Ulu) memiliki keunikan atau kekhasan tersendiri. Rumah panggung tradisional dari wilayah uluan Sungai Ogan, Sumsel ini memiliki dinding yang semuanya menggunakan kayu, memiliki tiang (kayu unglen) yang hanya diganjal (bisa dengan batu kali/balok kayu).
Jadi tidak ditanam atau disemen. Tujuannya mudah dipindahkan jika suatu saat dibutuhkah atau diharuskan dipindah karena kondisi tertentu.
BACA JUGA:Humah Angkung: Rumah Ulu Suku Ogan yang Langka dan Sarat Nilai Budaya di OKU
BACA JUGA:Tradisi Rumah Ulu di OKU, Warisan Arsitektur yang Bertahan Ratusan Tahun
Bangunan Rumah Ulu seperti contoh yang berada di Desa Padang Bindu Kecamatan Senidang Aji, Desa Pengandonan Kecamatan Pengandonan, Desa Kesambirata Kecamatan Pengandonan, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU).
Masing masing bagian ruang di rumah hulu ada fungsinya, yakni ruang depan menjadi tempat keluarga makan, bersantai, dan menjamu tamu. Bagian ruang tengah menjadi area untuk tidur dan beristirahat, sedangkan ruang belakang sebagai lokasi dapur atau pawon.
Lili Suherma Yati SS MA dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan OKU menyampaikan Rumah Ulu sebagai representasi nilai-nilai budaya masyarakat OKU.
Memiliki nilai-nilai filosofis, religius, dan simbol, status sosial. "Rumah Ulu perlu didorong untuk pelestarian identitas budaya dan penghormatan terhadap warisan nenek moyang, " ujarnya lagi.
Rumah ini memiliki beragam nilai filosofi misalnya gotong royong. Membangunnya pun dengan semangat gotong royong.
Rumah Ulu dibuat melalui proses musyawarah melibatkan berbagai pihak seperti keluarga inti dan pemuka adat. “Hal yang dibahas pada tata letak bangunan, arah bangunan, dan kapan waktu pengerjaannya,” tuturnya.
Terdapat pula nilai religius. Dilaksanakan "persedekahan" dimulai dari mencari bahan baku kayu di hutan, memulai mendirikan bangunan.
Juga ketika rumah selesai dibangun diadakan persedekahan menempati rumah baru sebagai bentuk syukur kepada Allah.
“Nilai sosialnya, pada bagian depan Rumah Ulu mempunyai fungsi sebagai tempat menerima tamu. Bagi tamu yang datang berkunjung, akan dipersilakan duduk di ruang tamu yang berada di posisi paling depan dekat teras dengan jendela terbuka,” terangnya.
Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan sekaligus menjaga sosialisasi dengan masyarakat setempat.
