Bahagia dan Haru, Pernikahan Putri Bungsu Gubernur Sumsel Herman Deru Sarat Makna Kekeluargaan
putri bungsu Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, dr. Hj. Ratu Tenny Leriva, MM, resmi menggelar resepsi pernikahan dengan suaminya, Letda CKM dr. Herfandi Dimas Anugrah, MARS, di Gedung The Sultan Conventions, Sabtu (6/9/2025) malam.-Foto: Kris Samiaji-
PALEMBANG, SUMATERAEKSPRES.ID - Setelah melangsungkan akad nikah pada Jumat (5/9), putri bungsu Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, dr. Hj. Ratu Tenny Leriva, MM, resmi menggelar resepsi pernikahan dengan suaminya, Letda CKM dr. Herfandi Dimas Anugrah, MARS, di Gedung The Sultan Conventions, Sabtu (6/9/2025) malam.
Acara berlangsung meriah dan dihadiri tokoh-tokoh nasional, di antaranya Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dan mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, serta sejumlah pejabat Pemprov Sumsel.
Dalam sambutannya, Herman Deru mengucapkan terima kasih kepada seluruh undangan dan pihak yang membantu terselenggaranya rangkaian pernikahan putri bungsunya, mulai dari lamaran, akad, hingga resepsi.
“Kehadiran bapak ibu semua adalah kebahagiaan besar bagi keluarga kami. Doa yang tulus tentu menjadi hadiah terindah untuk kedua mempelai,” ujar Deru.
BACA JUGA:Gubernur Herman Deru Sampaikan Sejumlah Keinginan Strategis untuk Sumsel di Hadapan Ketua DPD RI
Ia juga memohon maaf jika ada kekurangan dalam penyambutan maupun jamuan. “Atas nama keluarga besar, kami mohon dimaafkan bila ada yang kurang berkenan,” tambahnya.
Prosesi Adat Komering
Tak hanya resepsi mewah, pernikahan ini juga sarat makna budaya. Ratu Tenny dikukuhkan dengan gelar adat “Ratu Indoman Tebuayan” oleh Lembaga Pembina Adat Kabupaten OKU Timur, sementara sang suami menerima gelar kehormatan “Perwira Mangku Alam.”
Piagam adat diserahkan langsung oleh Bupati OKU Timur, Ir. H. Lanosin, MT, MM, disaksikan jajaran tokoh adat. Ketua Lembaga Adat, H. Leo Budi Rachmadi, menegaskan bahwa pemberian gelar bukan sekadar seremoni, tetapi bentuk penghormatan sekaligus doa agar pasangan pengantin senantiasa menjaga nilai budaya Komering.
BACA JUGA:350 Atlet Sumsel Turun di Kejurnas Renang Piala Gubernur Sumsel 2025
Tradisi semakin khidmat dengan pembacaan Pisak’an, sastra tutur khas Komering karya Akamal Mustofa, yang dibawakan sastrawan muda Deky Zoelkarnaen. Dalam bait-baitnya, kedua mempelai dipatri dengan nama adat baru mereka.
Prosesi tersebut ditutup dengan doa koh-koh, harapan agar rumah tangga pasangan baru ini dipenuhi kebahagiaan, kedamaian, dan keberkahan.
