ISRA MIKRAJ (Refleksi Peningkatan Keimanan dan Kepedulian Sosial)
Prof Dr H Duski Ibrahim MAg-foto: ist-
Tapi, peristiwa ini harus diimani dan harus dijadikan penebal keimanan kita kepada Allah SWT, karena telah dijelaskan oleh Allah SWT sendiri dalam Al-Quran. Salah satu media untuk meningkatkan iman dan media utama untuk masuk surga adalah menunaikan ibadah salat lima waktu. Salat ini adalah tujuan utama Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW.
Selain itu, peristiwa Isra Mikraj merefliksikan sikap kepedulian sosial. Banyak peristiwa yang ditemui Nabi Muhammad SAW dalam melakukan Isra Mikraj yang menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk saling mengingatkan (wa tawashau bi al-haqq) antara satu sama lain. Rasulullah bertemu dengan suatu kaum yang memecahkan kepala mereka sendiri, secara berulang-ulang. Hal ini menurut penjelasan malaikat Jibril menggambarkan orang-orang yang malas atau enggan melaksanakan salat fardhu.
BACA JUGA:Tingkatkan Keimanan dan Ketaqwaan
BACA JUGA:Tadarus Al Qur’an Tingkatkan Keimanan dan Ketaqwaan
Rasulullah bertemu dengan suatu kaum yang memakan rumput, pohon dhori’ dan zaqqum (pohon berduri dan rasanya pahit luar biasa). Mereka adalah gambaran orang-orang yang tidak mau menunaikan zakat, tidak mau berinfak dan tidak peduli dengan penderitaan saudaranya yang mengalami kekurangan.
Rasulullah bertemu dengan suatu kaum yang dihadapannya ada daging mentah-busuk dan ada daging segar-matang-enak. Mereka justeru memilh daging mentah dan busuk. Ini adalah gambaran orang-orang yang sudah memiliki pasangan yang sah sebagai suami-istri, tetapi tetap saja melakukan perselingkuhan. Di era sekarang, perselingkuhan banyak sekali terjadi di berbagai lapisan masyarakat, mulai kalangan bawah, langam menengah hingga kalangan atas atau elite. Rasulullah bertemu dengan orang yang berenang dalam sungai darah bercampur nanah dan dilempari dengan batu. Ini adalah gambaran orang-orang yang menzalimi orang lain melalui riba.
Rasulullah bertemu dengan suatu kaum yang lidah terjulur lalu dipotong dengan gunting secara terus menerus. Ini adalah gambaran bagi para penceramah yang menyampaikan ajaran-ajaran agama, tetapi mereka suka memfitnah, mnggunjing dan tidak mengamalkan apa yang disampaikannya. Rasulullah SAW juga bertemu dengan suatu kaum yang mempunyai kuku panjang, lalu mereka mencakar-cakar wajah dan tubunhya sendiri. Ini dalah gambaran orang-orang yang suka berbuat ghibah dan namimah, melakukan hoax yang sangat merugikan orang lain atau perilaku orang kepada seseorang tertentu dengan tujuan merusak.
Peristiwa Isra Mikraj, dengan demikian, adalah suatu pelajaran sangat berharga bagi kita umat Islam, yaitu: Pertama, untuk terus meningkatkan hubungan dengan Allah SWT, hablum minallah, yaitu meningkatkan keimaan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan beribadah, terutama menunaikan ibadah salat yang menjadi oleh-oleh Nabi Muhammad SAW dari Isra Mikraj. Kedua, untuk meningkatkan hubungan dengan sesama manusia, hablum minannas, dengan cara melakukan pergaulan yang baik, ramah, toleran, dan saling memberi nasihat untuk sama-sama menjadi manusia yang baik.