Memetik Buah Pendidikan Ramadhan
Dr. Paizaluddin Baihaqy, S.Ag., M.Pd.I-Foto: ist-
Oleh: Dr. Paizaluddin Baihaqy, S.Ag., M.Pd.I
(Dosen FITK UIN Raden Fatah Palembang dan Dosen Pascasarjana Universitas Al-Qur’an Ittifaqiah Indralaya)
Ramadhan merupakan bulan madrasah, bulan sekolah, bulan latihan dan bulan pendidikan bagi orang yang beriman.
Melalui tulisan singkat ini, kita akan coba menganalisa dan menjelaskan 7 (tujuh) nilai pendidikan yang bisa dilahirkan melalui ibadah Ramadhan.
Apabila setiap orang yang beriman melaksanakan ibadah Ramadhan dengan sebaik-baiknya, maka ke-7 nilai pendidikan itu seperti buah segar dan sangat ranum yang akan dipetiknya.
Adapun 7 nilai Pendidikan dari ibadah puasa Ramadhan itu adalah sebagai berikut:
BACA JUGA:Gubernur Herman Deru Tutup Pengajian Ramadhan 1447 H/2026 M Pemprov Sumsel
BACA JUGA:UMAD Palembang Sukses Gelar Semarak Indahnya Ramadhan (SINAR) 1447 H
1. Pendidikan Keimanan (Tarbiyah Imaniyah)
Dalam berpuasa ada tiga sarana (wasilah) untuk mendidik iman, yakni pertama, selalu mentadabburi (mengamati, mempelajari, menghayati) tanda-tanda kekuasaan Allah yang Maha Pencipta serta keluasan rahmat dan hikmah perbuatan-Nya.
Tadabbur itu bisa dilakukan dengan penglihatan biasa (bashirah), bisa pula dengan penalaran akal sehat, dengan mentadabburi kekuasaan Allah Swt., yang berhubungan dengan hasil-hasil ciptaan-Nya, gejala-gejala alam, kesempurnaan penciptaan manusia, juga ayat-ayat suci al-Qur’an.
Kedua, selalu mengingat kematian yang penuh kepastian. Ketiga, mendalami fungsi semua jenis ibadah sebagai salah satu cara mendidik iman.
BACA JUGA:Harmonisasi Ramadhan Bentuk Karakter Pelajar Religius
Ketiga nilai yang mendidik keimanan ini sesungguhnya pelajaran utama dalam puasa Ramadhan.
Orang yang berpuasa dengan keteguhan iman akan mampu menjaga keikhlasan, ibadah dengan khusuk tanpa adanya riya’, meningkatnya rasa Syukur, dan berharap berjumpa dengan Allah dalam keadaan yang sebaik-baiknya.
Caranya dengan melaksanakan puasa dengan baik dan benar yang sendi utamanya adalah keikhlasan, juga memperbanyak memohon ampunan (maghfiroh) dan harapan (berdoa) kepada Allah Swt.
Selanjutnya puasa adalah ibadah yang tidak nampak sehingga dapat menghindari riya’. Kemudian puasa juga disyariatkan hati-hati dalam berkata dan bertindak, karena dapat merusak ibadah puasa, sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
BACA JUGA:“Cahaya Ramadhan” Iftar All You Can Eat dengan Door Prize dan Grand Prize Voucher Menginap
BACA JUGA:Pasar Murah Ramadhan 1447 H Digelar di 7 Ulu Palembang, Warga Antusias Berburu Sembako Murah
“Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, melainkan hanya memperoleh haus dan lapar”.
Orang yang puasa tapi tidak memperoleh pahala puasa ini karena orang yang berpuasa tidak bisa menjaga kata-kata dan perbuatannya.
Dalam puasa juga umat Islam didorong mencintai firman Allah Swt, yakni dengan memperbanyak tadarus Al-Qur’an. Kemudian orang yang berpuasa berkeyakinan bahwa kelak akan berjumpa langsung dengan Allah Swt., sehingga diperintahkan untuk banyak memohon ampunan.
Terakhir, ajaran puasa adalah melanggengkan rasa syukur, karena dengan merasakan lapar maka orang yang berpuasa akan selalu mengingat nikmat-nikmat Allah Swt yang telah diberikan rezeki yang banyak dan terus menerus.
BACA JUGA:Pengajian Ramadhan 1447 H di Masjid Babussalam BSB, Momentum Memperkuat Iman dan Kebersamaan
BACA JUGA:Pasar Murah Ramadhan Diserbu Warga 3 Ilir
2.Pendidikan Ruhani (Tarbiyah Ruhiyah)
Ibadah puasa bukan hanya ibadah jasmaniyah tetapi juga ibadah ruhaniyah.
Selama melaksanakan puasa ada 7 (tujuh) cara yang dapat dilakukan dalam rangka tarbiyah ruhiyah (pendidikan ruhani), yaitu: memperdalam iman kepada hal-hal (ghaib) yang dikabarkan Allah seperti azab kubur, alam barzakh, akhirat, hari perhitungan, memperbanyak dzikir dan shalat, melakukan muhasabah (introspeksi diri) setiap hari, mentadabburi makhluk Allah yang banyak menyimpan bukti-bukti kekuasaan, ketauhidan, dan kesempurnaan sifat Allah Swt, serta mengagungkan, menghormati, dan mengindahkan seluruh perintah dan larangan Allah Swt.
7 (tujuh) cara ini sesungguhnya adalah nilai-nilai pendidikan ruhani dalam puasa Ramadhan.
Tarbiyah ruhiyah yang diperoleh dari ibadah puasa Ramadhan sejatinya adalah upaya merawat dan membina ruhiyah manusia yang yang memang diciptakan dalam keadaan fitrah, sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Qur’an Surat Ar-Ruum ayat 30 : “Allah telah menciptakan manusia dalam keadaan fitrah. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
BACA JUGA:Buka Bersama di Penghujung Ramadan, Catering Shirly dan SPPG 16 Ulu 4 Perkuat Kebersamaan Relawan
BACA JUGA: Safari Ramadan PTBA Jadi Jembatan Kebaikan, Pererat Silaturahmi, Perkuat Kebersamaan
Oleh karena itu tarbiyah ruhiyah dalam ibadah puasa adalah merupakan upaya untuk menjaga dan merawat kemurnian fitrah ruh manusia yang telah ditanamkan keimanan dari sejak ruh manusia diciptakan.
3. Pendidikan Akal Pikiran (Tarbiyah Fikriyah)
Ibadah puasa juga memiliki nilai pendidikan akal pikiran. Selama berpuasa pendidikan terhadap akal dan pikiran dapat dilakukan dengan tafakkur (merenung/berkontemplasi).
Kegiatan tafakkur menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah adalah menyingkap beberapa perkara dan membedakan tingkatannya dalam timbangan kebaikan dan keburukan.
Dengan tafakkur, seseorang bisa membedakan antara yang hina dan yang mulia, dan antara yang lebih buruk dari yang buruk. Imam Syafi’i memberi nasihat:
BACA JUGA:Tebar Kebaikan di Bulan Ramadan, Honda Bikers Soleh
“Minta tolonglah atas pembicaraanmu dengan diam dan atas analisamu dengan tafakkur.”
Ibnu Qayyim mengomentari kalimat itu dengan berkata, “Yang demikian itu dikarenakan tafakkur adalah amalan hati, dan ibadah adalah amalan jawarih (fisik), sedang kedudukan hati itu lebih mulia daripada jawarih, maka amal hati lebih mulia daripada amal jawarih.
Di samping itu, tafakkur bisa membawa seseorang kepada keimanan yang tak bisa diraih oleh amal semata.”
Sebaik-baik tafakkur adalah pada saat membaca al-Qur’an, yang akan mengantar manusia kepada ma’rifatullah (mengenal Allah).
Memperbanyak tafakkur dengan membaca Al-Qur’an adalah salah satu amalan utama dalam puasa Ramadhan.
BACA JUGA:PLN Pastikan Listrik dan Layanan SPKLU Andal, Posko Nasional Ramadan dan Idulfitri 2026 Dibuka
BACA JUGA:Manisnya Tradisi Ramadan, Aneka Kue Tradisional Jadi Rezeki Musiman
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa dalam level puasa yang lebih tinggi, sesungguhnya orang yang berpuasa diperintahkan bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi lebih utama dari itu adalah kemampuan menahan nafsu yang munculnya dari akal fikiran manusia.
Kemampuan dan kesabaran menjaga serta memantapkan pikiran dalam hal-hal yang diridhoi Allah Swt dan menghindarkan pikiran dari hal-hal yang dibenci dan dimurkai Allah Swt adalah lebih tinggi level kesulitannya daripada hanya menahan diri makan dan minum.
Pendidikan menahan dan menjaga pikiran inilah yang menjadi tarbiyah fikriyah dalam puasa.
4. Pendidikan Perasaan (Tarbiyah ‘Athifiyah)
Puasa mengajarkan ketajaman naluri untuk peduli dengan nasib orang yang kurang beruntung.
BACA JUGA:Sambut Ramadan, PT Berkat Sawit Sejati Salurkan Ratusan Paket Sembako untuk Warga
Naluri manusia (insting) berupa kesedihan, kegembiraan, kemarahan, ketakutan, dan cinta merupakan perasaan-perasaan utama yang selalu mendera manusia.
Sedangkan cinta adalah perasaan yang bisa menjadi motivasi paling kuat untuk menggerakkan manusia melakukan apapun.
Maka Ibnu Qayyim memberi 11 resep mendudukan perasaan cinta, yaitu dengan cara menanamkan perasaan yang kuat bahwa seorang hamba sangat membutuhkan Allah (bukan yang lain), meyakinkan diri sendiri bahwa satu hati yang menjadi milik manusia harus dipenuhi hanya oleh satu cinta, mengokohkan perasaan bahwa pemilik segala sesuatu di dunia ini Allah semata.
Puasa sesungguhnya menanamkan ma’rifat tentang betapa banyak nikmat Allah dan betapa banyak kelemahan kita, menanamkan ma’rifat bahwa hanya Allah-lah yang telah menciptakan semua perbuatan semua hamba dan telah menanamkan iman di dalam hatinya, menanamkan perasaan butuh pada hidayah Allah dalam setiap detik kehidupannya, bersungguh-sungguh dan penuh harap dalam memanjatkan doa-doa yang meminta pertolongan Allah dalam menghadapi apapun, menanamkan kesadaran penuh akan nikmat dan karunia-Nya yang begitu banyak, serta menanamkan ilmu bahwa cinta kepada Allah merupakan tuntutan iman.
BACA JUGA:Warga Berburu Daging, Serbu Bazar Ramadan dan Pasar Murah di Stisipol
memetik buah pendidikan ramadhan oleh: dr. paizaluddin baihaqy, s.ag., m.pd.i (dosen fitk uin raden fatah palembang dan dosen pascasarjana universitas al-qur’an ittifaqiah indralaya) ramadhan merupakan bulan madrasah, bulan sekolah, bulan latihan dan bulan pendidikan bagi orang yang beriman. melalui tulisan singkat ini, kita akan coba menganalisa dan menjelaskan 7 (tujuh) nilai pendidikan yang bisa dilahirkan melalui ibadah ramadhan. apabila setiap orang yang beriman melaksanakan ibadah ramadhan dengan sebaik-baiknya, maka ke-7 nilai pendidikan itu seperti buah segar dan sangat ranum yang akan dipetiknya. adapun 7 nilai pendidikan dari ibadah puasa ramadhan itu adalah sebagai berikut: baca juga:gubernur herman deru tutup pengajian ramadhan 1447 h/2026 m pemprov sumsel baca juga:umad palembang sukses gelar semarak indahnya ramadhan (sinar) 1447 h 1. pendidikan keimanan (tarbiyah imaniyah) dalam berpuasa ada tiga sarana (wasilah) untuk mendidik iman, yakni pertama, selalu mentadabburi (mengamati, mempelajari, menghayati) tanda-tanda kekuasaan allah yang maha pencipta serta keluasan rahmat dan hikmah perbuatan-nya. tadabbur itu bisa dilakukan dengan penglihatan biasa (bashirah), bisa pula dengan penalaran akal sehat, dengan mentadabburi kekuasaan allah swt., yang berhubungan dengan hasil-hasil ciptaan-nya, gejala-gejala alam, kesempurnaan penciptaan manusia, juga ayat-ayat suci al-qur’an. kedua, selalu mengingat kematian yang penuh kepastian. ketiga, mendalami fungsi semua jenis ibadah sebagai salah satu cara mendidik iman. baca juga:harmonisasi ramadhan bentuk karakter pelajar religius baca juga:ikuti sanlat ramadhan ratusan siswa sman 18 palembang diminta perbaiki diri dan dekatkan hati menuju ilahi ketiga nilai yang mendidik keimanan ini sesungguhnya pelajaran utama dalam puasa ramadhan. orang yang berpuasa dengan keteguhan iman akan mampu menjaga keikhlasan, ibadah dengan khusuk tanpa adanya riya’, meningkatnya rasa syukur, dan berharap berjumpa dengan allah dalam keadaan yang sebaik-baiknya. caranya dengan melaksanakan puasa dengan baik dan benar yang sendi utamanya adalah keikhlasan, juga memperbanyak memohon ampunan (maghfiroh) dan harapan (berdoa) kepada allah swt. selanjutnya puasa adalah ibadah yang tidak nampak sehingga dapat menghindari riya’. kemudian puasa juga disyariatkan hati-hati dalam berkata dan bertindak, karena dapat merusak ibadah puasa, sebagaimana sabda rasulullah saw: baca juga:“cahaya ramadhan” iftar all you can eat dengan door prize dan grand prize voucher menginap baca juga:pasar murah ramadhan 1447 h digelar di 7 ulu palembang, warga antusias berburu sembako murah “berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, melainkan hanya memperoleh haus dan lapar”. orang yang puasa tapi tidak memperoleh pahala puasa ini karena orang yang berpuasa tidak bisa menjaga kata-kata dan perbuatannya. dalam puasa juga umat islam didorong mencintai firman allah swt, yakni dengan memperbanyak tadarus al-qur’an. kemudian orang yang berpuasa berkeyakinan bahwa kelak akan berjumpa langsung dengan allah swt., sehingga diperintahkan untuk banyak memohon ampunan. terakhir, ajaran puasa adalah melanggengkan rasa syukur, karena dengan merasakan lapar maka orang yang berpuasa akan selalu mengingat nikmat-nikmat allah swt yang telah diberikan rezeki yang banyak dan terus menerus. baca juga:pengajian ramadhan 1447 h di masjid babussalam bsb, momentum memperkuat iman dan kebersamaan baca juga:pasar murah ramadhan diserbu warga 3 ilir 2.pendidikan ruhani (tarbiyah ruhiyah) ibadah puasa bukan hanya ibadah jasmaniyah tetapi juga ibadah ruhaniyah. selama melaksanakan puasa ada 7 (tujuh) cara yang dapat dilakukan dalam rangka tarbiyah ruhiyah (pendidikan ruhani), yaitu: memperdalam iman kepada hal-hal (ghaib) yang dikabarkan allah seperti azab kubur, alam barzakh, akhirat, hari perhitungan, memperbanyak dzikir dan shalat, melakukan muhasabah (introspeksi diri) setiap hari, mentadabburi makhluk allah yang banyak menyimpan bukti-bukti kekuasaan, ketauhidan, dan kesempurnaan sifat allah swt, serta mengagungkan, menghormati, dan mengindahkan seluruh perintah dan larangan allah swt. 7 (tujuh) cara ini sesungguhnya adalah nilai-nilai pendidikan ruhani dalam puasa ramadhan. tarbiyah ruhiyah yang diperoleh dari ibadah puasa ramadhan sejatinya adalah upaya merawat dan membina ruhiyah manusia yang yang memang diciptakan dalam keadaan fitrah, sebagaimana firman allah swt dalam al-qur’an surat ar-ruum ayat 30 : “allah telah menciptakan manusia dalam keadaan fitrah. tidak ada perubahan pada ciptaan allah. (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." baca juga:buka bersama di penghujung ramadan, catering shirly dan sppg 16 ulu 4 perkuat kebersamaan relawan baca juga: safari ramadan ptba jadi jembatan kebaikan, pererat silaturahmi, perkuat kebersamaan oleh karena itu tarbiyah ruhiyah dalam ibadah puasa adalah merupakan upaya untuk menjaga dan merawat kemurnian fitrah ruh manusia yang telah ditanamkan keimanan dari sejak ruh manusia diciptakan. 3. pendidikan akal pikiran (tarbiyah fikriyah) ibadah puasa juga memiliki nilai pendidikan akal pikiran. selama berpuasa pendidikan terhadap akal dan pikiran dapat dilakukan dengan tafakkur (merenung/berkontemplasi). kegiatan tafakkur menurut ibnu qayyim al-jauziyah adalah menyingkap beberapa perkara dan membedakan tingkatannya dalam timbangan kebaikan dan keburukan. dengan tafakkur, seseorang bisa membedakan antara yang hina dan yang mulia, dan antara yang lebih buruk dari yang buruk. imam syafi’i memberi nasihat: baca juga:tebar kebaikan di bulan ramadan, honda bikers soleh baca juga:penutup safari ramadan, pertamina patra niaga kilang plaju salurkan bantuan ke masjid di sekitar area operasi “minta tolonglah atas pembicaraanmu dengan diam dan atas analisamu dengan tafakkur.” ibnu qayyim mengomentari kalimat itu dengan berkata, “yang demikian itu dikarenakan tafakkur adalah amalan hati, dan ibadah adalah amalan jawarih (fisik), sedang kedudukan hati itu lebih mulia daripada jawarih, maka amal hati lebih mulia daripada amal jawarih. di samping itu, tafakkur bisa membawa seseorang kepada keimanan yang tak bisa diraih oleh amal semata.” sebaik-baik tafakkur adalah pada saat membaca al-qur’an, yang akan mengantar manusia kepada ma’rifatullah (mengenal allah). memperbanyak tafakkur dengan membaca al-qur’an adalah salah satu amalan utama dalam puasa ramadhan. baca juga:pln pastikan listrik dan layanan spklu andal, posko nasional ramadan dan idulfitri 2026 dibuka baca juga:manisnya tradisi ramadan, aneka kue tradisional jadi rezeki musiman imam al-ghazali menjelaskan bahwa dalam level puasa yang lebih tinggi, sesungguhnya orang yang berpuasa diperintahkan bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi lebih utama dari itu adalah kemampuan menahan nafsu yang munculnya dari akal fikiran manusia. kemampuan dan kesabaran menjaga serta memantapkan pikiran dalam hal-hal yang diridhoi allah swt dan menghindarkan pikiran dari hal-hal yang dibenci dan dimurkai allah swt adalah lebih tinggi level kesulitannya daripada hanya menahan diri makan dan minum. pendidikan menahan dan menjaga pikiran inilah yang menjadi tarbiyah fikriyah dalam puasa. 4. pendidikan perasaan (tarbiyah ‘athifiyah) puasa mengajarkan ketajaman naluri untuk peduli dengan nasib orang yang kurang beruntung. baca juga:bahagianya bupati muba toha tohet silaturahmi ramadan di kampung halaman, sekaligus berbagi kebahagiaan baca juga:sambut ramadan, pt berkat sawit sejati salurkan ratusan paket sembako untuk warga naluri manusia (insting) berupa kesedihan, kegembiraan, kemarahan, ketakutan, dan cinta merupakan perasaan-perasaan utama yang selalu mendera manusia. sedangkan cinta adalah perasaan yang bisa menjadi motivasi paling kuat untuk menggerakkan manusia melakukan apapun. maka ibnu qayyim memberi 11 resep mendudukan perasaan cinta, yaitu dengan cara menanamkan perasaan yang kuat bahwa seorang hamba sangat membutuhkan allah (bukan yang lain), meyakinkan diri sendiri bahwa satu hati yang menjadi milik manusia harus dipenuhi hanya oleh satu cinta, mengokohkan perasaan bahwa pemilik segala sesuatu di dunia ini allah semata. puasa sesungguhnya menanamkan ma’rifat tentang betapa banyak nikmat allah dan betapa banyak kelemahan kita, menanamkan ma’rifat bahwa hanya allah-lah yang telah menciptakan semua perbuatan semua hamba dan telah menanamkan iman di dalam hatinya, menanamkan perasaan butuh pada hidayah allah dalam setiap detik kehidupannya, bersungguh-sungguh dan penuh harap dalam memanjatkan doa-doa yang meminta pertolongan allah dalam menghadapi apapun, menanamkan kesadaran penuh akan nikmat dan karunia-nya yang begitu banyak, serta menanamkan ilmu bahwa cinta kepada allah merupakan tuntutan iman. baca juga:warga berburu daging, serbu bazar ramadan dan pasar murah di stisipol
