Sumatera Ekspres | Baca Koran Sumeks Online | Koran Sumeks Hari ini | SUMATERAEKSPRES.ID - SUMATERAEKSPRES.ID Koran Sumeks Hari ini - Berita Terhangat - Berita Terbaru - Berita Online - Koran Sumatera Ekspres

https://sumateraekspres.bacakoran.co/

Mitsubishi baru

Polemik Benteng Kuto Besak dalam Wacana Kesejarahan Palembang, Ini Penjelasan Peneliti Senior BRIN

Dr Retno Purwanti MHum-Foto : Ist-

“Istana ini, saat kami tiba, memperlihatkan kondisi akibat pengrusakan dan kekejaman. Aksi pembunuhan kelihatannya disusul oleh aksi penjarahan, dan isi istana dirampok seluruhnya, di mana jalan setapak dan lantainya pun dipenuhi bercak darah.”

“Di segala penjuru kami saksikan pemandangan kesengsaraan, dan yang terutama diperparah oleh pendaran cahaya dari lautan api di mana-mana, di tengah-tengah gemuruh petir. Api yang melalap semakin melebarkan kerusakan yang diakibatkannya, meskipun hujan deras membasahi kawasan ini, di mana kobarannya kini sudah mencapai bangunan luar istana dan mengancam bagian di mana kami menginap sementara.”

“Suara retihan bambu, mirip suara letusan tembakan senapan musket, runtuhnya atap yang terlalap api yang menimbulkan bunyi debum luar biasa kerasnya, semakin mendekatnya kobaran api, membuat kami merasa seolah-olah dikepung kerumunan massa yang mengamuk dan para pembunuh, yang semuanya ini memberikan bayangan yang sangat mengerikan,” (Thorn, 2004).

Kondisi di dalam kraton yang dilaporkan Thorn tersebut diperparah dengan serbuan korvet Belanda, tembakan meriam dan senjata api lain, baik pada perang tahun 1819 maupun 1821. Kebakaran terbesar terjadi pada akhir tahun 1236 H (1821 M), tepat bulan Ramadan, yang mengakibatkan banyak bagian dari BKB mengalami kerusakan.

BACA JUGA:Pembuat Tato di BKB Kembali Berulah, Empat Atlet Pornas Korpri Asal PBD Jadi Korban Pemerasan

BACA JUGA: Hendak Pulang Nonton Bidar, Pemuda di Palembang Dikeroyok-Ditikam di Kawasan BKB

Oleh karena itu, Belanda yang kemudian menduduki benteng ini membangun ulang (reconstruction) dengan bangunan-bangunan baru sesuai dengan kebutuhannya saat itu. Sejak itu BKB berpindah tangan ke Pemerintah Kolonial Belanda.

Dari uraian singkat ini tentunya dapat disimpulkan bahwa sebelum dikuasai oleh Belanda, BKB sejatinya memang kompleks kraton, tempat di mana sultan dan kerabatnya melakukan aktivitas keseharian dan kenegaraan. Sayangnya, bukti keberadaan kraton ini memang sudah tidak bisa dilihat lagi sekarang.

Hal ini disebabkan rumah-rumah limas yang tidak terbakar oleh Belanda dikeluarkan dari dalam benteng. Setelah itu, Belanda mendirikan bangunan-bangunan baru sesuai dengan kebutuhan, termasuk barak-barak prajurit, yang sebagian besar masih ada sampai sekarang.

Catatan: Penulis Dr Retno Purwanti MHum adalah Peneliti Senior pada Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), berkantor di Jl Gatot Subroto, Jakarta.

Di bagian lain, seperti diketahui sebelumnya, Pemerintah Kota Palembang akan membuka akses BKB untuk umum. Menyusul pertemuan Wali Kota Palembang Drs H Ratu Dewa MSi dengan Panglima Kodam II Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis MDA, pertengahan Desember 2025 lalu.

Dalam keterangan resminya, 17 Desember 2025, Wali Kota Palembang Drs H Ratu Dewa MSi menyampaikan dari hasil rapat bersama Pangdam II Sriwijaya dan pejabat utamanya, disepakati bahwa BKB nanti bisa dibuka untuk masyarakat.

Namun sebelum dibuka, BKB yang selama ini tertutup bagi publik itu akan direvitalisasi. Rencana revitalisasi tampak depan BKB akan dimulai 1 Januari 2026, didahului penandatanganan kerja sama terlebih dahulu.

BKB nantinya tidak hanya menjadi objek wisata semata, tetapi juga akan bertransformasi menjadi pusat informasi budaya. Rencananya, kawasan ini akan dilengkapi dengan galeri sejarah dan tourism information untuk memberikan pengalaman edukatif bagi pengunjung.

Dalam perkembangannya, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Sulaiman Amin, pernah menyampaikan Benteng Kuto Besak (BKB) di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), yang menjadi ikon sejarah Kota Palembang akan dibuka untuk umum. Namun kesepakatan akses wisata masih digodok antara Pemkot dan Kodam II/Sriwijaya.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan