Polemik Benteng Kuto Besak dalam Wacana Kesejarahan Palembang, Ini Penjelasan Peneliti Senior BRIN
Dr Retno Purwanti MHum-Foto : Ist-
Sejumlah naskah kuna Palembang tidak pernah menyebutkan kata “benteng” untuk menyebut BKB. Di dalam naskah disebut Kuto Besar (bukan Besak) atau Kuto Anyar untuk menyebut bangunan-bangunan yang didirikan oleh Sultan Muhammad Bahauddin.
Pembangunannya dimulai pada Ahad (Minggu) 15 Jumadil Awal 1193 H (1779), dan mulai digunakan pada Isnin 23 Sya’ban 1211 H (Senin, 27 Februari 1797). Bangunan ini merupakan tempat tinggal sultan dan keluarganya.
Dalam naskah nyaris tidak ditemukan kata “kraton”. Kraton berasal dari kata “ratu” mendapat awalan “ka” dan akhiran “an”, menjadi “karatuan”, artinya tempat tinggal ratu, yang kemudian disingkat menjadi “kraton”.
Dengan demikian kata ini merupakan penyebutan oleh masyarakat sekarang, bukan dari era Sultan Muhammad Bahauddin dan sultan-sultan penggantinya. Dalam naskah, tempat tinggal sultan disebut dengan “dalem”.
Dari catatan Mayor William Thorn yang ikut menyerbu masuk ke dalam BKB saat terjadinya Perang Palembang pada tahun 1811, di dalam BKB juga terdapat Keputren, beberapa rumah limas tempat kediaman para pangeran (anak-anak sultan).
BACA JUGA:Pelaku Pungli Parkir 20 Ribu Kawasan BKB Ampera Diamankan
Selanjutnya, Pamarekan tempat untuk menerima tamu dari luar negeri. Kemudian ada Balai Bandung, tempat sultan-sultan dinobatkan dan upacara kenegaraan dilaksanakan. Tidak lupa juga alun-alun yang disebut dengan meidan.
Seluruh bangunan tersebut dikelilingi oleh benteng beton di bagian luarnya, yang berfungsi sebagai pertahanan dari serangan musuh. Untuk memasuki lingkungan di dalam benteng harus melewati pintu (lawang) yang terletak di depan menghadap Sungai Musi, di bagian utara, pintu di bagian barat dan timur.
Seperti umumnya kraton, maka ada juga bangunan masjid yang sampai sekarang masih terlihat dan digunakan oleh masyarakat Palembang. Adanya benteng yang mengelilingi kompleks kraton inilah yang dalam ingatan masyarakat Palembang kraton ini sering disebut dengan “benteng”.
Dalam Hikayat Palembang hanya satu kali menyebut kata benteng, yaitu benteng Palembang. Penyebutan BKB dengan kata “Benteng Palembang” tampaknya untuk membedakan dengan benteng-benteng lain di sekitarnya, seperti Benteng Tambakbaya, Benteng Kemaro, Benteng Manguntama, atau Benteng Muara Plaju.
Oleh karena itu, masyarakat Palembang masa kesultanan lebih sering menyebut BKB dengan sebutan kuto atau kota, bukan benteng. Bangunan-bangunan di dalam BKB yang dibangun oleh Sultan Muhammad Bahauddin sebagian besar sudah hancur terbakar terkena peluru senapan dan korvet Belanda.
BACA JUGA:Kawasan BKB Direvitalisasi Bakal Disulap Menjadi Alun-Alun hingga Tempat Rekreasi
BACA JUGA: Beri Contoh ASN Manfaatkan Transportasi Umum, Wako Ratu Dewa Naik LRT ke BKB
Bahkan, saat masuk ke dalam benteng kraton, Mayor William Thorn memberikan kesaksian sebagai berikut:
