Sumatera Ekspres | Baca Koran Sumeks Online | Koran Sumeks Hari ini | SUMATERAEKSPRES.ID - SUMATERAEKSPRES.ID Koran Sumeks Hari ini - Berita Terhangat - Berita Terbaru - Berita Online - Koran Sumatera Ekspres

https://sumateraekspres.bacakoran.co/

Mitsubishi baru

Polemik Benteng Kuto Besak dalam Wacana Kesejarahan Palembang, Ini Penjelasan Peneliti Senior BRIN

Dr Retno Purwanti MHum-Foto : Ist-

JAKARTA, SUMATERAEKSPRES.ID-Pagi hari Rabu, 28 Januari 2026 saya mendapat pesan dari Andreas OP, salah satu anggota DPRD Kota Palembang dari Fraksi PDI Perjuangan. Dalam pesan tersebut terdapat tautan berita tentang Benteng Kuto Besak (BKB). Dinarasikan sebagai kraton, bukan benteng pertahanan.

Polemik terkait BKB ini bukan suatu hal yang baru, karena pada tahun 2014 pernah terjadi dan dimuat di salah satu harian terkemuka di Palembang (Sumatera Ekspres) dua hari berturut-turut, tanggal 19 dan 20 Juni 2014.

Awalnya penulis dengan merujuk pendapat sejarawan Unsri Prof Dr Farida R Wargadalem MSi, disebutkan bahwa BKB merupakan kraton di masa lalu. Pendapat tersebut ternyata disanggah oleh Anwar Bek, yang menyatakan bahwa BKB bukanlah kraton, melainkan benteng pertahanan.

Dari dua pernyataan yang berbeda tersebut, terlihat adanya ketidaktahuan sebagian dari masyarakat dan anggota DPRD Kota Palembang tentang kesejarahan BKB. Dan tentu saja masyarakat yang tidak mengetahui secara jelas kesejarahan BKB juga dibuat bingung dengan perbedaan pendapat dimaksud, mana yang benar, BKB sebagai benteng atau sebagai kraton.

Untuk itu mungkin ada perlunya kita merunut ke belakang dan melacak jejak kesejarahan BKB. Harus diakui, sampai saat ini sebagian besar masyarakat Palembang, termasuk para wisatawan yang berkunjung ke Palembang, tidak pernah mengetahui bahwa Palembang pernah memiliki kraton.

BACA JUGA:Komitmen Jaga Warisan Sejarah, 175 Prajurit dan Pemkot Palembang Bersihkan Kawasan BKB

BACA JUGA:Target Revitalisasi Rampung Akhir Juli, Peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Bakal Digelar di BKB

Dan sesuai dengan nama yang tertera di dinding benteng, maka masyarakat umumnya memahami BKB sebagai benteng pertahanan milik Belanda. Tentu saja pendapat seperti ini tidak bisa disalahkan, karena sebelum diambil alih oleh Pemerintah Indonesia dan digunakan sebagai markas Kesdam.

BKB memang dikuasai oleh Belanda dan digunakan sebagai markas tentara lengkap dengan bangunan pendukungnya. Hal itu dibuktikan dari hasil penelitian Balai Arkeologi Sumatera Selatan tahun 2001. Penelitian tersebut berhasil mengidentifikasi bahwa seluruh bangunan di dalam tembok keliling BKB merupakan bangunan baru, baik yang dibangun pada era Belanda maupun pada masa kemerdekaan (Aryandini Novita, 2001).

Tembok keliling yang masih bisa dilihat oleh masyarakat sekarang pun sudah diubah bentuknya oleh Belanda. Pintu gerbang utama untuk masuk ke dalam area BKB merupakan bangunan baru yang dibangun oleh Belanda. Begitu pun pintu masuk ke RS AK Gani.

Dari fakta ini, maka pernyataan Anwar Bek dan masyarakat bahwa BKB merupakan benteng pertahanan Belanda adalah benar adanya. Tapi kebenaran itu sebatas pada BKB sejak dikuasai oleh kolonial Belanda pada tahun 1825 sampai 1945.

Tapi tunggu dulu, bagaimana dengan kesejarahan BKB sebelum dikuasai oleh Belanda? Untuk mengetahui kesejarahan BKB harus merujuk pada arsip-arsip lama (Husni Rahim, 1993; 1998) dan naskah-naskah kuna Palembang (Woelder, 1971).

BACA JUGA:Olahraga Bersama dan Karya Bakti Rawat Sejarah di Kawasan BKB–Lawang Borotan

BACA JUGA:Pungli Kawasan BKB-Ampera Terus Terjadi, Tarik Parkir Rp20 Ribu per Mobil

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan