Mengenal Tugas dan Peran Kru dalam Lomba Perahu Bidar Palembang
Mengenal Tugas dan Peran Kru dalam Lomba Perahu Bidar Palembang-Foto: Budiman/Sumateraekspres.id-
PALEMBANG, SUMATERAEKSPRES.ID - Lomba perahu tradisional Bidar, yang menjadi ikon budaya Kota Palembang, kembali menjadi magnet dalam peringatan hari-hari besar seperti HUT Kemerdekaan RI dan HUT Kota Palembang.
Digelar di Sungai Musi, ajang tahunan ini tidak hanya menjadi agenda tetap pemerintah daerah, tapi juga dinanti oleh masyarakat Sumsel dan wisatawan luar daerah.
Warisan budaya yang telah eksis sejak era Kesultanan Palembang Darussalam ini kini naik kelas, ditetapkan sebagai bagian dari Kharisma Event Nusantara (KEN) 2025 oleh Kementerian Pariwisata RI.
Dalam rangka menyambut perlombaan tahun ini, tim Sumatera Ekspres menyambangi bengkel pembuatan dan perbaikan perahu Bidar di kawasan Jalan Sido Ing Lautan Lorong PMI, Kelurahan 35 Ilir, Palembang. Di sana, dua pengrajin kawakan, Pak Joni (51) dan Lukman Hakim, tampak sibuk memperbaiki dua unit perahu yang akan turun berlaga.
BACA JUGA:Ratu Dewa Dukung Penuh Penguatan Jurnalis Perempuan Lewat Digital Storytelling dan Festival Bidar
BACA JUGA: Jaga Tradisi di Arus Sungai Musi, Jaka Siapkan Dua Bidar Tua Hadapi 'Kenceran' 2025
“Untuk tahun ini, kami hanya melakukan perbaikan. Tidak ada pembuatan baru. Perahu yang rusak kami perbaiki—ganti kayu lapuk, dempul ulang, dan pengecatan sesuai permintaan sponsor,” ujar Pak Joni.
Lukman menambahkan bahwa kepemilikan perahu Bidar telah mengalami pergeseran.
"Dulu milik kampung, dibuat secara gotong royong. Sekarang, sudah jadi milik pribadi. Biaya pembuatan dan perawatan pun ditanggung pemilik," jelasnya.
Tak hanya biaya besar—membuat satu unit perahu Bidar bisa menelan dana hingga Rp 100 juta—pemilik juga harus memiliki pangkalan khusus di tepi sungai.
BACA JUGA:Minta Festival Bidar Lebih Meriah dan Tertib, Ini Instruksi Wako Palembang
BACA JUGA: Bidar-Serapungan, Olahraga yang Jadi Magnet Wisatawan
Bangunan beratap seng sepanjang 35 meter ini difungsikan sebagai tempat penyimpanan sekaligus bengkel perahu.
“Untuk membuat perahu sepanjang 31 meter dan lebar 1,5 meter, dibutuhkan kayu Merawan sebanyak 7 kubik. Satu kubik bisa mencapai Rp 8 juta.
